CERPEN TEMA KELUARGA
Belajar dari Sebuah Kesalahan
Cerpen Karangan: Wilda Husnatul Ukrimah
Namaku Ratih. Gadis cuek dengan wajah oval, mata belo, dan berambut panjang. Kecuekanku itu beralasan dan hanya untuk orang-orang tertentu. Cuekku bertambah besar sejak masa SD usai. Sebelumnya aku ingin melupakan semua kejadian, tetapi aku sadar bahwa dibalik itu banyak pelajaran untuk meraih masa depan terlebih perihal kekeluargaan.
Aku berdiam diri sembari meratapi masa kelam yang telah terjadi 6 tahun silam. Tak terasa sedari tadi air mataku sudah menggenang disana, iya tepatnya di ujung pelupuk mata.
Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 6 SD. Tepat pada hari Jum'at sore, ayah mengajakku, ibu beserta adik ke rumah nenek. Ayah bilang akan mengadakan tasyakuran kecil-kecilan atas hari jadi pernikahan ayah dan ibu yang ke 15 tahun. Awalnya aku senang mengetahui itu, aku senang karena sampai saat itu aku masih diberi keluarga yang utuh oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Sesampainya di rumah nenek semua tampak masih normal, seperti yang tengah ada di depan mata beberapa makanan khas Jawa yang sudah tersedia di meja tua. Tiba-tiba ayah menyuruhku masuk ke ruang tamu dan menyuruhku menjaga adik yang tertidur pulas. Pun tak lama aku ikut tertidur di sebelahnya.
"Maafkan aku, aku khilaf dan aku mau berubah maaf." Mohon ayah pada ibu. Seketika aku terbangun dan menguping pembicaraan mereka dibalik pintu belakang. Aku melihat ibu yang tengah menangis, sedang ayah bersimpuh di depannya. Aku bingung bukan main melihat apa yang sedang terjadi. "Aku muak denganmu mas! Aku muak!" Jerit ibu di sela-sela tangisnya. "Aku menyesal dik, aku akui kesalahanku dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Ujar ayah sambil memegang tangan ibu. "Cukup mas! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mulutmu itu!" Jawab ibu dengan nada tingginya. Brakk! Pintu belakang tidak sengaja terdorong olehku. Ibu yang menyadari aku ada di balik pintu segera menghampiriku. "Ayok pulang sekarang!" "Tapi bu, kan belum selesai acaranya?" Balasku. Ibu yang tidak menggubris omonganku langsung menggendong adik yang masih tertidur. "Dik, mau kemana? Kita bicara dulu sebentar." "Aku mau pulang!" Lagi-lagi mereka bertengkar, namun kali ini tepat di hadapanku. Tangisanku pecah, sebelumnya aku tidak pernah sekalipun melihat mereka bertengkar sehebat ini. Tapi kali ini nyata, bukan drama. Jelas semua jelas adanya.
Aku dan ibu berjalan kaki menuju rumah kami. Jarak rumah nenek dan rumahku kurang lebih 3 km,kami sudah terbiasa dengan ini, hanya saja suasananya yang membedakan. Biasanya kami berjalan dengan semangat karena untuk berlibur ke rumah nenek. Lantas ini berbeda, ini tak sama. Adik dalam gendongan ibu, ibu yang sedang dalam keadaan marah, dan aku yang terperangah kebingungan. Ayah mengikuti langkah kami dengan motornya, dan sesekali menawarkan bantuan agar aku dan ibu ikut bersamanya. Beberapa menit kemudian, kami semua sampai di rumah. Ibu yang masuk rumah duluan dan ayah segera menyusulnya. Aku mengikuti mereka perlahan dan lagi-lagi aku menguping pembicaraan mereka berdua. Aku tertegun mendengar pernyataan ayah, aku tidak bisa percaya. Ayah yang sebelumnya sangat aku sayangi, aku percayai, ternyata telah menyakiti hati perempuan yang telah melahirkanku 14 tahun yang lalu. Ayah mengaku bahwasannya ia pernah berselingkuh, ia berdusta kepada ibu, ia ada main dengan wanita lain di belakang ibu. Bagaimana ibu tidak marah sehebat itu? Jika hatinya amat terluka karena kelakuan ayah yang hina itu. Aku berlari menuju kamarku, memutar kembali akan apa yang telah aku tonton tadi, mencoba memahami dan mengerti. Entah sudah berapa butir air mata yang jatuh di pipi. Sedih, marah, tak terima pun bercampur aduk menjadi satu. Masih terdengar pertengkaran di kamar sebelah, iya ayah dan ibu masih adu mulut. Inginku teriak dan menghentikan mereka namun aku tidak bisa. Aku tidak sanggup, bahkan sekedar memanggil saja sudah tidak ada suara dari kerongkonganku. Aku lelah.
"Ratih.. " Ibu membangunkanku. Ternyata setelah tadi aku menangis, aku tertidur. "Iya bu? " Kataku setengah sadar. "Apakah kamu mendengar semuanya?" "Iya, aku tau dan aku mendengar semuanya" "Apa kamu masih sayang sama ayah?" Bak tersambar petir pertanyaan itu membuatku bungkam. "Apa kamu masih ingin punya ayah? Atau kamu mau berpisah dengan ayahmu?" Lanjut Ibu. Aku masih diam, tangisanku kembali pecah. Lalu ibu keluar dari kamarku. Sore telah tiba, aku berangkat ngaji, tapi tanpa berpamitan pada kedua orangtuaku. Diperjalanan, aku mengingat pertanyaan-pertanyaan yang ibu lontarkan tadi, aku membayangkan hidup tanpa ayah bagaimana, membayangkan tidak ada sosok ayah di keluargaku. Bibirku bergetar, menahan luka dan air mata yang tak dapat terbendung lagi. Esok harinya ayah menghampiriku di kamar, ia memelukku, meminta maaf atas segala kesalahan yang ia lakukan pada ibu, ia tidak ingin aku membencinya, ia pun berjanji akan memperbaiki diri, dan memperbaiki segalanya.
"Istighfar jangan melamun aja, ayo sholat dzuhur berjamaah." Ajak ayah membuyarkan lamunanku. Sejak kejadian 6 tahun yang lalu itu, ayah memang berusaha berubah menjadi lebih baik lagi. Bahkan sekarang ayah lebih religius. Ayah menepati janjinya. Ayah menjadi imam di salah satu musholla di lingkunganku. Ayah mengajari belasan anak kecil yang ngaji disana. Dalam keluargapun ayah adalah sosok yang paling penyabar. Aku bersyukur pada Allah, keluargaku kini menjadi keluarga yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Meski ujian beberapa tahun lalu itu sangatlah berat bagiku, terutama ibu. Tetapi dengan itu, aku bisa mengerti arti sebuah besarnya kepercayaan, arti sebuah keikhlasan dalam memaafkan sebuah kesalahan, dari itu aku tau bahwa kesetiaan termasuk unsur penting dalam sebuah kekeluargaan, aku tau bahwa dari kesalahan kita bisa belajar banyak hal, ternyata harta yang paling berharga tak lain adalah sebuah keluarga, terlebih lagi dalam memperbaiki diri, setiap cobaan yang Allah beri semata-mata hanya untuk mengingatkan kepada umat-Nya bahwa mereka harus selalu mendekatkan diri kepada penciptanya.
Comments
Post a Comment